Indeks

Profil Biodata Julius Robert Oppenheimer

Profil Biodata Julius Robert Oppenheimer
Profil Biodata Julius Robert Oppenheimer

Nama Julius Robert Oppenheimer mulai dikenal kembali berkat film biografi berjudul Oppenheimer yang ditayangkan Juli 2023 lalu. Film karya sutradara jenius, Cristopher Nolan ini mampu membangkitkan ingatan kita pada sejarah kelam dalam Perang Dunia II.

Berkatnya, dunia melihat kembali ‘monster‘ yang selama ini tertidur, yaitu bom nuklir.

J. Robert Oppenheimer adalah pencipta dari bom atom dalam proyek Manhattan (Manhattan Project), ia dijuluki sebagai Bapak Bom Atom. Kali ini Velix akan memaparkan biodata sang ilmuan sekaligus peranannya dalam penemuan bom nuklir pertama.

Profil Oppenheimer

J. Robert Oppenheimer

Julius Robert Oppenheimer, sosok yang memetakan jalan sejarah dengan kepintarannya, lahir pada tanggal 22 April 1904 di Kota New York, Amerika Serikat. Sejak kecil, bakatnya dalam ilmu pengetahuan bersinar terang, didukung oleh keluarga yang peka terhadap kejeniusannya. Oppenheimer tumbuh menjadi pemuda cerdas yang unggul di bidang matematika dan fisika.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Harvard, perjalanan ilmiahnya terus berkembang di Universitas Cambridge di Inggris, di mana dia meneliti fisika kuantum dan teori medan elektromagnetik. Kembali ke tanah airnya, Oppenheimer meraih gelar doktor di Universitas Göttingen, Jerman, menegaskan dirinya sebagai cendekiawan ulung.

Karir akademisnya berkilauan, memposisikannya sebagai salah satu fisikawan terkemuka. Pada tahun 1942, dia memegang peran sentral dalam Proyek Manhattan, pencapaian besar dalam sejarah manusia yang menghasilkan bom atom pertama di dunia. Sebagai direktur proyek, kepemimpinannya membimbing tim ilmuwan menuju prestasi luar biasa tersebut.

Namun, pasca-perang, Oppenheimer memilih jalan kontroversial. Dengan tegas, dia mendukung kontrol senjata nuklir dan menolak pengembangan bom hidrogen yang lebih mematikan. Kepemimpinannya dianggap kontroversial oleh pemerintah AS, yang pada tahun 1954 mencabut izin keamanannya.

Meski menghadapi turbulensi politik, Oppenheimer tidak pernah menyerah. Kembali ke pangkuan akademis, dia mengabdikan sisa hidupnya untuk mempromosikan pemanfaatan energi nuklir demi keamanan dunia.

Perginya pada 18 Februari 1967 meninggalkan warisan ilmiah dan etika yang masih memengaruhi dunia hingga kini. Pemikiran dan tindakan Oppenheimer membentuk paradigma global terkait senjata nuklir dan tanggung jawab ilmiah. Keberanian dan keyakinannya adalah sumber inspirasi, menunjukkan bahwa kekuatan intelektual dapat membentuk arah peradaban.

Ibunya, seorang pelukis menurut Berthwin, penulis biografi yang meraih banyak penghargaan dengan karyanya yang berjudul “American Prometheus.” Dia datang dari keluarga berada, tinggal di sebuah apartemen besar di Upper West Side dengan 3 pelayan, seorang sopir, dan terdapat karya seni rupa yang terpajang di dinding rumahnya.

Namun, terlepas dari asuhan yang mewah ini, Oppenheimer dikenal sebagai orang yang murah hati oleh teman masa kecilnya. Seorang teman sekolah mengingatnya sebagai seseorang yang sangat mudah tersipu, pipinya sangat merah jambu, sangat pemalu, tetapi juga sangat cerdas.

Saat memasuki tahun terakhir sekolah di sekolah budaya dan intelektual, minatnya dalam ilmu kimia muncul pada usia 18 tahun.

Dia melanjutkan studi di Universitas Harvard dengan jurusan kimia. Di kampus ini, ia dipertemukan dengan mata kuliah tentang Termodinamika yang menarik perhatiannya dan menginspirasinya untuk mengeksplorasi lebih jauh ke dalam fisika eksperimental.

Bird dan Shareween juga menyebut Oppenheimer sebagai teka-teki, seorang fisikawan teoritis yang menampilkan kualitas karisma dari seorang pemimpin besar.

Dia adalah seorang estetikus yang memelihara ambiguitas. Oppenheimer adalah seorang ilmuwan, tetapi sebagian temannya menggambarkannya sebagai manipulator imajinasi kelas satu. Pada tahun 1924, Oppenheimer diterima di Universitas Cambridge, di mana ia semakin terbenam ke dalam ilmu fisika. Teman-teman yang menyebutnya sebagai seseorang yang memiliki kecenderungan untuk merusak diri sendiri dikarenakan ia menghabiskan waktunya untuk merokok dan berpikir yang dalam tentang fisika.

Disebutkan pula bahwa ia sampai-sampai jarang makan dan tidur, kemudian pindah ke Universitas Göttingen, yang merupakan pusat fisika teori terbaik di dunia. Ia berhasil meraih gelar PhD dan pada tahun 1927 ia kembali ke Harvard untuk mempelajari fisika matematika dan menjadi anggota dewan riset nasional. Pada awal tahun 1928, ia melanjutkan studinya di Institut Teknologi California.

Oppenheimer merupakan sosok yang dihormati sebagai pionir dalam mendirikan sekolah fisika teoritis Amerika. Dia mengukir namanya dalam berbagai bidang penelitian yang mengagumkan, termasuk Hammer meneliti secara mendalam tentang astrofisika, fisika nuklir, spektroskopi, dan teori Medan Quantum.

Kontribusinya yang luar biasa dalam teori hujan sinar kosmik menjadikannya sosok yang mengemuka, serta perannya yang tak ternilai dalam mengembangkan pemahaman tentang fenomena penerowongan kuantum.

Keterlibatan Oppenheimer di Perang Dunia II

Secara singkat bisa dibilang bahwa Perang Dunia II diakhiri oleh bom nuklir yang dijatuhkan Amerika di Jepang.

Amerika menjatuhkan bom atom di dua kota Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki. Serangan itu membunuh 120.000 orang warga sipil. Akhirnya Jepang menyerah secara resmi pada tanggal 2 September 1945 dengan menandatangani surat resmi penyerahan diri di kapal perang AS, USS Missouri.

Pada akhir Perang Dunia Kedua, terjadi sebuah peristiwa besar, sebuah tragedi kemanusiaan yang membuka mata dunia dan menyadarkan manusia bahwa dunia tidak akan sama lagi. Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom uranium jenis bedil yang diberi nama Little Boy, nama yang cukup imut untuk sebuah senjata pemusnah massal. Bom ini dijatuhkan di Hiroshima.

Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, meminta Jepang menyerah 16 jam kemudian dan memberi peringatan akan adanya hujan reruntuhan dari udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi.

Namun, saat itu Jepang memilih untuk terus bertahan dan melawan. Tiga hari kemudian, pada tanggal 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom plutonium jenis implosi yang diberi nama Fat Man di Nagasaki, membuat Jepang menyerah tanpa syarat.

Manhattan Project

Nazi kalah pada perang dunia kedua.

Kita tidak akan membahas Perang Dunia ke-2 secara keseluruhan, tetapi akan membahas sesuatu yang tersembunyi di balik layar yang melibatkan seorang tokoh terkenal, J. Robert Oppenheimer. Kita akan membahas peristiwa terciptanya bom atom, sesuatu yang kelak akan dikenal sebagai Proyek Manhattan.

Landasan dari proyek ini adalah kekhawatiran pemerintah AS terhadap kemungkinan Nazi Jerman menggunakan senjata pemusnah massal yang dapat mengubah dinamika perang.

Sekitar akhir tahun 1930-an, terdapat dua ilmuwan Jerman, Otto Hahn dan Fritz Strassmann, bersama dengan Lise Meitner, seorang ilmuwan Austria, berhasil menemukan bahwa penyerapan neutron dapat menyebabkan terpecahnya atom-atom uranium.

Ketika laporan tentang penemuan ini tersebar, seorang fisikawan Italia bernama Enrico Fermi melihat potensi besar yang bisa dihasilkan jika penemuan ini diterapkan dalam bidang kemiliteran.

Fermi kemudian menghubungi Angkatan Laut Amerika Serikat dan mengusulkan pembuatan senjata atom. Namun, tanggapan dari pemerintah Amerika Serikat baru didapatkan beberapa bulan kemudian setelah Albert Einstein menulis sepucuk surat kepada Presiden Amerika Serikat kala itu, Franklin D. Roosevelt.

Dalam surat tersebut, Einstein memperingatkan bahwa Jerman diduga sedang mengembangkan proyek bom atom yang memiliki potensi destruktif yang sangat besar. Hal inilah yang mendorong Presiden Roosevelt untuk membentuk Komite Penasihat Uranium pada tahun 1940.

Kemudian, pada tanggal 9 Oktober 1941, Presiden mengambil langkah yang cukup drastis. Ia memberikan persetujuan bagi program pengembangan bom atom yang akan menggentarkan tatanan dunia. Dalam pengembangan proyek ambisiusnya ini, ia menjalin kolaborasi dengan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill.

Serangan Jepang ke Pearl Harbour

Bagaikan genderang perang, serangan Jepang yang menghujani Pearl Harbor menjadi cambuk kuat yang mendorong Amerika Serikat untuk segera menggelorakan proyek perencanaan bom yang memiliki kekuatan paling dahsyat.

Keesokan harinya, Amerika Serikat melompat masuk ke dalam perang besar, Perang Dunia Ke-2. Saat itu juga, gelombang dana yang begitu deras mulai mengalir untuk membangun senjata nuklir yang bakal mengubah takdir. Pada bulan Agustus 1942, bayangan yang tersembunyi itu akhirnya memperoleh wujud nyata dalam nama Proyek Manhattan.

Dua sosok yang mengemban misi kepemimpinan dalam proyek ini adalah Vanner Bush dan Mayor Jenderal Lesley Groves.

Mereka juga dihiasi oleh Barisan Para Elit, termasuk Ernest O. Lawrence yang ditunjuk sebagai panglima proyek, sedangkan Fermi didaulat sebagai penasihat ilmuan.

Proyek Manhattan memperkerjakan lebih dari 100.000 orang dalam prosesnya dan melibatkan banyak ilmuwan terkemuka pada masanya, termasuk Robert Oppenheimer, Julius Robert Oppenheimer, yang dikenal sebagai ahli fisika Amerika Serikat sekaligus penemu bom atom yang telah menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia Kedua.

Pada tahun 1930-an, ia menorehkan sejarah sebagai orang pertama yang mengajukan gagasan tentang eksistensi apa yang kini kita kenal sebagai lubang hitam atau black hole. Ketika Perang Dunia Kedua dimulai, Oppenheimer dengan penuh semangat terlibat dalam upaya pengembangan bom atom. Ia telah menghabiskan sebagian besar waktunya di fasilitas laboratorium radiasi Lawrence di berbagai tempat.

Oppenheimer Menjadi Direktur Los Alamos

Foto J. Robert Oppenheimer dan Robert Einstein

Hingga akhirnya, pada Juni 1942, Jenderal Leslie Groves menunjuk Oppenheimer sebagai Direktur Laboratorium Los Alamos yang menjadi pusat dari Proyek Manhattan.

Pada awalnya, Proyek Manhattan tidak dirancang untuk mengembangkan bom, melainkan meriam nuklir. Cara kerja dari meriam ini cukup rumit karena harus membenturkan dua massa plutonium berkecepatan tinggi dengan bom atom. Alhasil, pembuatan meriam ini tidak diteruskan karena dianggap terlalu sulit bagi para ilmuwan kala itu.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Proyek Manhattan mulai dirancang sekitar tahun 1942 sampai nantinya 1996 dan mempekerjakan lebih dari 100.000 fisikawan ternama baik dari Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Dalam prosesnya, mereka bekerja sama untuk mempelajari ilmu, memahami mekanisme reaksi fisik nuklir, pemisahan isotop, dan desain prototipe bom atom.

Robert Oppenheimer dan ilmuwan terkenal lainnya seperti Enrico Fermi dan Richard Feynman terlibat dalam riset dan desain ini.

Buku “What Little I Remember”

Dalam autobiografinya tahun 1979, “What Little I Remember,” fisikawan kelahiran Austria, Otto Hahn, mengenang bahwa Oppenheimer telah merekrut tidak hanya para ilmuwan yang dibutuhkan, tetapi juga seorang pelukis, seorang filsuf, dan beberapa karakter lain yang tidak biasa.

Dia merasa bahwa komunitas yang beradab akan menjadi tidak lengkap tanpa mereka. Proyek Manhattan terbilang sangat besar, tercatat hingga tahun 1994, proyek ini menghabiskan dana sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahunnya. Lebih dari 90% biayanya digunakan untuk membangun gedung penelitian dan memproduksi bahan fisil, sedangkan 10% lainnya digunakan untuk pengembangan dan produksi senjata.

Meskipun penelitian ini dilakukan di lebih dari 30 lokasi terbesar di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, namun 3 kota rahasia dipilih sebagai pusat dari penelitian tersebut, yaitu Oak Ridge, Los Alamos, dan Hanford atau Richland.

Oppenheimer sendiri mengawasi pembangunan dan administrasi laboratorium di Los Alamos, sebuah gurun kering yang luas di New Mexico. Setelah pembangunan selesai, ia membawa para ahli fisika terbaik untuk mengerjakan cara membuat bom atom. Pada akhirnya, Oppenheimer mengelola lebih dari 3000 orang sambil menangani masalah teoritis dan mekanis yang muncul.

Selama pembuatan bom atom, Proyek Manhattan diketahui mengembangkan dua jenis bom atom secara bersamaan, sebagian besar dikerjakan di Oak Ridge. Teknisi Oppenheimer adalah jantung emosional dan intelektual dalam Proyek Manhattan. Lebih dari siapapun, dia telah membuat bom atom itu menjadi kenyataan.

Jeremy Bernstein, yang bekerja bersamanya setelah perang, meyakini bahwa tak ada orang lain yang mampu melakukannya, seperti yang tertulis dalam biografinya pada tahun 2004.

Risiko adanya kecelakaan kerja tidaklah kecil. Melalui laporan-laporan yang ada, terungkap bahwa terdapat 24 kematian selama berjalannya Proyek Manhattan. Sebagian besar dari kematian ini adalah akibat kecelakaan konstruksi. Namun, terdapat dua kisah tragis ilmuwan yang mengguncang Proyek Manhattan, menorehkan jejak kepedihan yang memilukan.

Pertama, Harry Daghlian secara tak sengaja menjatuhkan batu tungku karbit ke inti plutonium. Akibatnya, terjadi reaksi tak terkendali, dan dia terkena dosis radiasi mematikan. Dia menderita selama sebulan penuh di lorong rumah sakit sebelum akhirnya meninggal. Sementara itu, Slotin mengalami kecelakaan setelah obeng yang ia gunakan untuk memodifikasi bagian atas reflektor berilium neutron tergelincir. Setengah inti atom jatuh, dan sang ilmuwan terpapar radiasi mematikan yang mengantarkannya ke pintu kematian dalam waktu 9 hari.

Akhirnya, pasca dua kematian ini, inti plutonium itu disebut sebagai inti setan. Pada April 1945, Harry Truman yang baru saja menggantikan Roosevelt sebagai Presiden Amerika Serikat, segera mempelajari Proyek Manhattan. Pada Juli 1945, dilakukan pengujian pertama senjata plutonium yang dinamakan Trinity di dekat Alamogordo, New Mexico.

Uji coba bom nuklir Trinity

Tidak diketahui pasti mengapa Oppenheimer memilih nama Trinity untuk lokasi pengujian tersebut. Namun, pada tahun 1962, pemimpin Proyek Manhattan, Jenderal Lesley Groves, menulis kepada Oppenheimer. Dia menanyakan tentang asal-usul nama Trinity.

Menurut salinan surat yang merupakan bagian dari koleksi Pusat Riset Keamanan Nasional Lab, Oppenheimer berkata,

“Mengapa saya memilih nama itu tidak jelas, tetapi saya tahu pemikiran apa yang ada di benak saya. Ada puisi John Donne yang ditulis tepat sebelum kematiannya.”

Oppenheimer kemudian mengutip Soneta. “Htmn to God, My God, in My Sickness“, Tentang seorang pria yang tidak takut mati karena dia percaya tentang ‘kebangkitan’. “Itu masih belum menjadi Tritunggal, tetapi dalam puisi lain yang lebih dikenal, Donne mengatakan, Batter my heart, three person’d God. Di luar ini saya tidak punya petunjuk apapun“, lanjutnya.

Saat pengujian, para ilmuwan menginginkan visibilitas yang baik, kelembapan yang rendah, angin sepoi-sepoi di ketinggian rendah, dan angin barat di ketinggian tinggi. Untuk pengujian, cuaca terbaik diprediksi antara 18 dan 21 Juli. Tetapi Konferensi Potsdam akan dimulai pada 16 Juli, dan Presiden Harry Truman ingin pengujian dilakukan sebelum konferensi dimulai.

Maka dari itu, Trinity dijadwalkan diledakkan pada tanggal 13 Juli. Tetapi karena cuaca buruk, percobaan itu tidak jadi dilaksanakan. Akhirnya, diputuskan bahwa tanggal 16 Juli adalah waktu terbaik. Tes dijadwalkan jam 04.00 pagi, tetapi saat itu turun hujan. Akhirnya, peledakan dilakukan pada pagi hari, pukul 05:29:45 waktu setempat.

Ketika bom akhirnya diledakkan di atas menara baja, kilatan cahaya kuat menerangi pegunungan di sekitarnya. Dikatakan lebih terang dari siang hari dan berlangsung selama satu hingga dua detik. Kemudian disusul datangnya gelombang panas yang tiba-tiba, diikuti oleh ledakan suara yang menggema di lembah.

Sebuah bola api merobek langit, kemudian dikelilingi oleh awan jamur raksasa yang membentang mencapai ketinggian 7,5 mil atau sekitar 12,1 KM. Gelombang kejutnya dapat dirasakan hingga 160 KM jauhnya, dengan kekuatan yang setara dengan sekitar 21.000 ton TNT.

Ledakan itu meninggalkan kawasan dalam 4,7 kaki atau 1,4 m dan selebar 330 m. Kawah tersebut melumerkan pasir gurun dan mengubahnya menjadi lapisan kaca hijau tipis yang kemudian disebut Trinity saat menyaksikan ledakan itu.

Oppenheimer kemudian mengenang bahwa dia memikirkan sebuah ayat dari kitab suci Hindu, “Jika pancaran 1000 Matahari meledak sekaligus ke langit, itu akan menjadi seperti kemegahan yang perkasa.” Peristiwa ini menandai dimulainya sebuah era baru yang disebut era nuklir.

Banyak yang menganggap Proyek Manhattan sebagai proyek yang gagal. Bagaimana tidak, yang jauh melebihi anggarannya ditetapkan, belum lagi kematian ilmuwan saat prosesnya. Namun, pemerintah Amerika Serikat sendiri menganggapnya sukses. Mau bagaimanapun, proyek ini dilahirkan dengan tujuan yang jelas, yaitu membekali Amerika Serikat untuk melawan keganasan Nazi Jerman dan ancaman mematikan dari Jepang dalam panggung Perang Dunia Kedua.

Tentu, jika kita melihat dalam perspektif tersebut, proyek ini pastinya berhasil. Namun, perlu diingat bahwa proyek ini hanya menghasilkan dua bom atom saja, yaitu Little Boy dan Fat Man. Little Boy sendiri dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, kemudian, beberapa hari setelahnya, tepatnya pada tanggal 9 Agustus 1945, Fat Man dijatuhkan di kota Nagasaki.

‘Pembantaian’

Kehancuran yang dibawa oleh kedua bom ini tidak main-main. Menurut sainsmock, bom Hiroshima menewaskan sekitar 90.000 sampai 120.000 orang, baik yang meninggal seketika atau selama beberapa minggu dan bulan berikutnya karena cedera atau penyakit radiasi akut.

Sementara bom yang meratakan Nagasaki 3 hari kemudian merenggut 60.000 hingga 70.000 nyawa. Jumlah korban ini masih merupakan perkiraan kasar. Dikarenakan, seperti yang dijelaskan oleh sosok sains Susan Lindy dari University of Pensil, American Science, and The Survivors at Hiroshima, ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima, dampaknya begitu dahsyat sehingga sebagian besar mayat yang berada di dekat hiposenter atau titik ledakan terkuat benar-benar terbakar atau hancur menjadi abu akibat suhu yang sangat tinggi.

Selain itu, banyak mayat korban yang hanyut ke laut setelah serangan tersebut. Beberapa korban yang sekarat dan mencoba mencari bantuan di sungai-sungai di sekitar Hiroshima akhirnya meninggal, dan jasad mereka terbawa oleh arus sungai menuju laut. Kondisi ini menyebabkan kesulitan dalam menghitung jumlah korban dengan presisi. Penjelasan lebih lengkap akan kita bahas lebih lanjut di video tentang Perang Dunia Kedua.

Kejadian ini jugalah yang nantinya mendorong negara-negara besar untuk berlomba-lomba menciptakan senjata nuklir, khususnya selama Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

James A. Hijiya dalam “The Gita of J. Robert Oppenheimer” mengungkapkan bahwa Openheimer percaya adalah tugas para ilmuwan untuk membuat bom atom, tetapi tugas negarawan untuk memutuskan apakah atau bagaimana itu digunakan. Namun, ternyata ia tetap tak bisa membohongi dirinya sendiri.

Sekitar dua dasawarsa setelah ledakan bom atom di Los Alamos pada 16 Juli 1945, pada suatu acara wawancara TV, Openheimer menegaskan, “Kita tahu, dunia tak akan pernah sama setelah ditemukannya bom atom. Beberapa orang tertawa, beberapa orang menangis, dan sebagian besarnya hanya diam.

Saya teringat pada kitab suci Hindu, Bhagavad Gita, di mana Sri Krishna meyakinkan Arjuna untuk menunaikan tugasnya dalam menumpas Kurawa. Lalu, Sri Krishna bertiwi krama menjadi raksasa menyeramkan.” Sumber kutipan tersebut bagaimanapun telah banyak disalah tafsirkan.

Seperti penjelasan sejarahwan populer Stand dalam blognya, Openheimer bukanlah Krishna atau Wisnu, bukan dewa yang mengerikan, bukan pula penghancur dunia. Dia adalah Arjuna, pangeran manusia. Dia adalah orang yang tidak benar-benar ingin membunuh saudara-saudaranya sesamanya, tapi dia telah diperintahkan untuk berperang oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, fisika visi bom atom Perang Dunia Kedua apapun itu. Dan baru pada saat itu, benar-benar mengungkapkan sifatnya melalui testernitas.

Dia sepenuhnya melihat mengapa dia, seorang pria yang membenci perang, terpaksa berperang. Itu adalah bom yang ada di sini untuk dihancurkan, walaupun Hammer hanyalah orang yang menyaksikannya. Mau bagaimanapun, Openheimer yang wafat pada tahun 1967 di Prince New Jersey justru terus dihantui rasa bersalah atas hanya berupa dua bom atom yang menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki.

Karyanya yang terus-menerus menghantui semua orang setelahnya, baik itu para perang dingin maupun paradetik, ini sejauh ini telah mengetahui kejenasan dan cerita di balik pembuatan senjata pemusnah massal tersebut. Kita pun sampai pada pertanyaan, apakah para ilmuwan dan penelitian terlibat dalam proyek Manhattan ikut bertanggung jawab atas banyaknya kematian yang terjadi akibat senjata buatan mereka itu? Dan pertanyaan yang lebih besar, apakah penggunaan senjata nuklir bisa dibenarkan secara moral. Terima kasih.

Jika anda tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan, silahkan kunjungi blog GuruGembul.id

Exit mobile version